Pangan Fungsional dan Kesehatan

Banyak orang makan hanya sekedar untuk menghilangkan rasa lapar, atau memenuhi kebutuhan tubuhnya untuk mendapat asupan energi. Beberapa orang mungkin telah menyadari akan peran makanan sebagai pemenuh kebutuhan gizi. Bagi para ibu, menyiapkan makanan dan minuman yang lezat bagi keluarga merupakan ajang pembuktian kasih sayang dan kepandaian mengolah cita-rasa. Sering dikatakan bahwa cinta suami datang dari mulut masuk ke perut baru ke hati. Ada pula canda yang mengatakan masakan koki sehebat apa pun tak akan selezat masakan ibunda tercinta.

Namun pernahkan terpikirkah oleh kita bahwa apa yang kita makan dan minum akan mempengaruhi lebih banyak hal dalam kehidupan? Apa yang kita santap ternyata juga dapat membuat tidur lebih lelap atau sebaliknya mampu membuat kita terjaga sepanjang malam. Makanan juga dapat membuat kita harus bertahan lama di toilet karena sembelit atau sebaliknya. Asupan pangan kita dapat berperan sebagai pereda nyeri, pemulih stamina, pemicu kerja syaraf hingga anti-uring2an (meminjam istilah Pak Wied, seorang ahli gizi dan praktisi kuliner). Bahkan yang sangat popular saat ini adalah kemampuan beberapa bahan pangan sebagai pencegah berbagai penyakit degeneratif serta penunda penuaan yang sangat potensial

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangai makan yang baik dapat menjaga kebugaran tubuh. Hal ini bisa dilihat pada beberapa populasi dunia yang mempunyai pola pangan berbeda menunjukkan kecenderungan usia harapan hidup dan status kesehatan lansia (=lanjut usia) yang berbeda pula. Bangsa Jepang dengan diet menu tradisional yang kaya akan serat dan konsumsi teh hijaunya yang tinggi mempunyai populasi penduduk usia lanjut yang cukup besar. Sementara orang Eskimo dengan konsumsi lebih banyak protein dan lemak hewani umumnya berusia lebih pendek.Nampaknya bahan pangan tak hanya bermanfaat sebagai sumber zat kimiawi bergizi tetapi kandungan zat kimiawi nirgizi (=non-gizi)nya pun dalam menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh manusia sangat strategis. Peran komponen-komponen bioaktif ini bagi kesehatan tubuh manusia mendapat banyak sorotan ahli pangan dunia dalam dua dasa-warsa terakhir ini. Terutama, sejak para pakar Jepang meluncurkan konsep yang aslinya dikenal sebagai FOSHU (Food for Specified Health Use) dan saat ini dikenal dengan sebutan `Pangan Fungsional` (functional foods).

Pangan Fungsional
Istilah pangan fungsional dipilih dari sederet istilah yang pernah dipopulerkan sebelumnya seperti ´pharmafoods´, ´designer foods´, ´nutraceutical food´, ´health foods´, ´therapeutic foods´ dan banyak lagi. Secara mudah dapat dikatakan bahwa pangan fungsional adalah bahan pangan yang berpengaruh positif terhadap kesehatan seseorang, penampilan jasmani dan rohani selain kandungan gizi dan cita-rasa yang dimilikinya. Jadi dalam hal ini keberadaan faktor ´plus´ bagi kesehatan yang iperoleh karena adanya komponen aktif pada bahan pangan tersebut adalah merupakan ´keharusan´.

Fungsi bahan pangan tidak lagi ada dua tetapi menjadi tiga, yaitu: segi nutrisi, citarasa dan kemampuan fisiologis aktifnya. Bila kita tengok lebih jauh lagi fungsi pangan yang terakhir ini bukanlah hal baru dalam dunia kuliner. Masakan Tiongkok kuno misalnya, banyak sekali yang memadukan antara khasiat dan cita-rasa dalam seni kulinernya. Pada masakan ini banyak digunakan bahan baku yang dikenal mempunyai komponen bio-aktif yang berkhasiat bagi kesehatan tubuh. Ahli ilmu pengobatan kuno, Hippocrates pun pernah berujar “Let Food be The Medicine”.

Pemerintah Jepang sendiri mendukung penuh pengembangan konsep pangan fungsional ini guna meminimalkan beban anggaran mengingat banyaknya lansia di Jepang yang harus mendapat jaminan asuransi kesehatan. Bila pada usia lanjutnya, mereka semua dalam kondisi kesehatan yang prima, berarti tidak perlu terlalu banyak biaya pengobatan yang harus dikeluarkan bukan?

Lalu mengapa konsep ini menjadi populer di banyak negara di dunia khususnya beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa termasuk juga sebahagian masyarakat Indonesia? Konsep pangan fungsional yang menawarkan konsumen untuk dapat mencapai kemandirian dalam menata kesehatan tubuhnya sendiri demi kebahagiaan di kelak kemudian hari merupakan daya tarik yang sangat diminati oleh banyak orang yang telah mampu masuk dalam era memikirkan hari esok. Itu sebabnya tak aneh bila saat ini ada beberapa ulasan di media massa yang tak hanya menyoroti masalah kekurangan gizi yang masih menimpa banyak penduduk negara kita, tetapi juga memuat ulasan tentang banyaknya anggota DPR yang kurang konsumsi seratnya (Suara Pembaharuan). Dan jangan lupa, bangsa kita pun mempunyai warisan konsep serupa sseperti halnya pada budaya mengkonsumsi jamu-jamuan (ramuan herbal).

Beda pangan fungsional dan obat?
Mungkin timbul pertanyaan dalam benak kita, apakah berarti pangan fungsional dapat berfungsi sebagai obat? Jawabnya adalah tidak. Mary K. Schmild dalam salah satu paparannya menyampaikan ada satu hal utama yang membedakan pangan dengan obat. Obat bersifat treatment (perlakuan penyembuhan), sedang pangan fungsional lebih bersifat mengurangi resiko. Pada obat, efek harus dapat dirasakan segera, sedang pada pangan fungsional lebih pada keuntungan di masa mendatang. Pemberian obat lebih ditujukan pada populasi tertentu (orang dengan penyakit tertentu). Sedang makanan fungsional berpeluang dimanfaatkan oleh siapa saja dengan kemungkinan cakupan konsumen yang lebih luas. Dari segi keamanannya, pertimbangan penggunaan obat lebih didasarkan pada pertimbangan keuntungan lebih besar dari resiko, sedang pada pangan fungsional sisi keamanan harus menjadi pertimbangan utama.

Hal ini akan menjadi semakin jelas bila kita mengikuti ´pakem´ yang diberikan oleh ilmuwan Jepang pencetus ide pangan fungsional ini. Suatu produk dapat disebut sebagai kelompok pangan fungsional bila:
• harus berupa suatu produk pangan (bukan kapsul, tablet atau bubuk) yang berasal dari bahan atau ingredien alami.
• dapat dan layak dikonsumsi sebagai bagian dari diet atau menu setiap hari
• mempunyai fungsi tertentu pada saat dicerna. Memberikan peran khusus dalam proses metabolisme tubuh seperti meningkatkan imunitas tubuh, mencegah penyakit tertentu, membantu pemulihan tubuh setelah menderita sakit, menjaga kondisi fisik dan mental serta memperlambat proses penuaan.

Ragam pangan fungsional
Sangat mudah mendapatkan berbagai jenis produk pangan olahan dari kelompok pangan ini berjajar di berbagai supermarket negara maju. Pelbagai produk baru, baik dari kelompok makanan maupun minuman, dengan berbagai aktifitas spesifiknya bermunculan hampir dalam hitungan bulan bahkan minggu. Cukup memusingkan bagi mereka yang gemar mengejar tren produk baru.

Menurut laporan khusus jurnal Food Technology tentang “Top 10 Functional Food Trends 2002”, perkembangan pangsa pasar produk pangan fungsional di USA terus berkembang menuju ke tingkat “mature”. Klaim pada label yang dianggap penting oleh konsumen meliputi : sumber kalsium yang baik, mungkin mereduksi resiko kanker, membantu system imun tubuh, membantu menjaga level kholesterol, mungkin membantu pencegahan osteoporosis, mungkin mengurangi resiko penyakit jantung, kadar serat tinggi, bebas kholesterol, sumber antioksidan yang baik, rendah kalori, rendah sodium, tinggi protein, bebas gula, pembentukan tulang yang kuat, energi tinggi .

Di Jepang sendiri, nampaknya “booming” pangan fungsional belum juga surut. Pada kunjungan saya terakhir tahun lalu, terlihat minat akan pangan fungsional telah mengimbas pada para remaja. Di beberapa pusat perbelanjaan di Sapporo misalnya, saat itu telah muncul “kios” trendy yang siap menyuguhkan minuman fungsional yang lezat selain juga menjual pernak-pernik produk pangan fungsional. Pada kios tersebut kita tinggal menyebutkan `khasiat` apa yang kita inginkan, mereka akan meraciknya sesuai dengan permintaan tersebut

Untuk ragam produk pangan fungsional yang dipasarkan jangan ditanya lagi, memang Jepang gudangnya. Dengan mudah kita dapat memperoleh berbagai produk dengan lambang khas yang menandakan produk tersebut masuk dalam kategori pangan fungsional.
Untuk ragam klaim dan idenya pun segudang. Terkadang kita pun dibuat heran darimana datangnya ide tersebut. Satu hal yang menarik untuk dicermati dari produk-produk tersebut adalah tampilannya yang selalu prima khas produk Jepang yang tak hanya memuaskan mulut tetapi juga mata Perkembangan produk pangan fungsional di Eropa mungkin para pembaca lebih banyak tahu dari saya. Kunjungan saya ke Perancis, Belanda dan Jerman akhir Juli 2002 menunjukkan bahwa produk-produk susu (dairy products) masih dominan di sana. Sedang di Indonesia pun tak mau ketinggalan dalam tren ini. Kita bisa jumpai baik pada tayangan iklan maupun deretan rak-rak di supermarket produk-produk dengan klaim probiotik mulai dari minuman susu bagi balita sampai pada cookies. Dapat juga dijumpai banyak produk dengan klaim diperkaya dengan zat besi, kalsium dan omega tiga sampai dengan produk bebas kholesterol (termasuk tersedia minyak kelapa sawit dan beras bebas kholesterol –nah yang ini cukup membuat saya jadi bingung- smile).

Kontribusinya pada kesehatan tubuh
Perkenankan saya untuk lebih senang menggunakan istilah “bugar” untuk menggambarkan keadaan tubuh yang sehat dan berstamina prima (bisa saja kita sehat tak sakit tapi tak nampak pancaran aura `inner beauty` sehat jasmani dan rohani—sedikit ngaco tak apa ya). Kebugaran tubuh merupakan kata kunci penting dalam penyiapan produk dengan label pangan fungsional.

Mari kita telusuri isi rak-rak berisi pangan fungsional dan kita buat kategorinya. Kita mulai dengan produk pangan fungsional yang ditujukan untuk membantu proses pencernaan dalam tubuh kita. Dapat kita jumpai di sini produk kaya serat dengan berbagai variasinya. Penggunaan serat larut air akan meningkatkan palatabilitas (kelezatan) produk dibanding serat-serat konvensional seperti selulosa, hingga banyak produk yang menggunakan serat jenis ini seperti fibrolose contohnya. Pada kelompok ini kita jumpai juga kelompok raksasa minuman dan makanan probiotik (diperkaya dengan mikroflora yang membantu pencernaan). Salah satu produk probiotik Jepang dengan kultur hidup Lactobacillus casei var. shirota yang sangat sukses dalam merebut pasar dunia diproduksi dengan label Yakult. Kelompok besar lain dalam ategori ini adalah produk prebiotik (diperkaya dengan komponenkomponen yang dapat membantu pertumbuhan mikroflora dalam usus besar) seperti minuman dengan oligosakarida.

Tahukah Anda bahwa produk pangan fungsional pertama yang sukses secara komersial di Jepang adalah dari kelompok ini yang dikenal dengan nama “Fibemini” (hingga saat ini produknya masih bertahan di pasar, walau telah banyak produk sejenis yang dikembangkan) (contoh produk bisa dilihat produk yang berada di tengah dalam Gambar 4 sebelah atas). Saat ini dapat pula ditemukan produk xenobiotik yang mengandung pro- dan prebiotik sekaligus dalam satu produk.

Kategori produk pangan fungsional lain adalah produk yang diperkaya dengan komponen-komponen fitokimiawi nirgizi, komponen aktif yang dapat bersifat sebagai antioksidan (terkait pada kemampuannya sebagai anti-kanker, anti-penuaan dsb), anti-hiperlipidemia, antithrombotik, anti-virus, anti-angiogenic (terkait pada penyakit jantung koroner, stroke, dsb). Produk-produk ini umumnya kaya akan kelompok komponen seperti karotenoid, likopen, terpenoid, flavonoid ataupun fenolik lain termasuk kelompok katekin dari teh hijau yang sangat tersohor khasiatnya bagi pencegahan penuaan dan resiko kanker

Ada juga kategori produk dengan penonjolan nilai plus sumber alami bahan bakunya yang dikenal kaya akan bahan fitokimiawi alami yang dianggap bermanfaat bagi tubuh. Misalnya, “mixed juice” dari berbagai sayuran dan buah-buahan yang dikenal sangat bergizi sekaligus berkhasiat bagi tubuh, atau “bluberry juice” serta keripik dari umbi jalar ungu yang kaya akan antosianin yang dapat menekan resiko kanker sekaligus memperbaiki penglihatan. Kecenderungan ini juga terlihat pada penggunaan ekstrak teh hijau pada berbagai produk pangan lainnya seperti minuman dalam kemasan, es krim hingga kue moci.

Pangan fungsional yang diperkaya dengan beberapa komponen berkhasiat sekaligus, juga merupakan pilihan yang banyak dapat ditemukan. Seperti misalnya kue dengan puree buah atau sayuran yang diperkaya prebiotik, probiotik, komponen dari kedele enistein dan daidzein yang sekaligus difortifikasi (diperkaya) dengan kalsium dan zat besi serta berkalori rendah nampaknya nikmat untuk disantap bagi wanita setengah baya menjelang menopause.
Produk pangan dengan tujuan perawatan organ tubuh tertentu juga mulai diperkenalkan dewasa ini. Dulu waktu kecil, mungkin sering kita dengar larangan makan permen karena dapat menimbulkan karies (kerusakan) gigi. Saat ini, permen dengan gula-gula poliol seperti xilitol dan sorbitol menawarkan rasa manis tanpa merusak gigi sehingga dapat dibuat banyak produk confectionery yang disarankan untuk sering dikonsumsi sebagai bagian dari perawatan gigi dan produk etiket untuk mengharumkan nafas. Mungkinkah pada generasi anak kita, mereka akan menyarankan anaknya banyak makan gum (permen karet) yang mengandung kandungan ekstrak teh hijau yang efektif mencegah mikroba penyebab karies gigi atau berbagai ekstrak rempah anti-mikroba penyebab bau mulut atau bahkan diperkaya dengan komponen aktif yang mampu memperangkap komponen bau kurang sedap?

Satu lagi kategori yang menonjol adalah kelompok produk yang dibuat dengan menekan jumlah keberadaan komponen tertentu, baik komponen gizi maupun nirgizi, yang dianggap dapat membuat masalah bagi kelompok konsumen tertentu. Produk dengan kategori ini dapat berupa produk rendah kalori, rendah garam (sodium), bebas gluten, rendah lemak atau bebas kholesterol, bebas kafein dsb. Produkproduk jenis ini umumnya menjadi pilihan bagi usia tengah baya dan manula yang sudah harus mulai membatasi asupan dietnya.

Pangan fungsional identik dengan mahal?
Pangan fungsional tidak hanya dapat diperoleh dari produk-produk olahan terkini hasil industri-industri besar dan moderen. Banyak cara kita memetik manfaat konsep pangan fungsional ini bila kita memahaminya dengan baik. Seperti telah diungkapkan di atas, banyak juga produk-produk tradisional banyak negara yang juga secara turun temurun mempunyai khasiat positif bagi kesehatan tubuh. Kefir atau yoghurt merupakan produk susu asam yang dikenal sebagai produk pangan kesehatan sejak zaman dulu. Di Indonesia pun kita mempunyai banyak hidangan khas daerah warisan nenek moyang kita yang dinilai mampu menjadikan tubuh lebih bugar, antara lain sari asam, beras kencur, sari temulawak, dan banyak lagi. Bila di Perancis dikenal “Wine Paradox”, kita pun mempunyai brem bali beras merah atau ketan hitam. Banyak juga yang sudah tersedia dalam kemasan praktis .

Kita pasti ingat bila tubuh kita mulai terasa tak fit lagi, cenderung terkena flu maka“wedang jahe” atau sekoteng, sambal pedas atau seduhan jeruk nipis panas menjadi pilihan yang manjur. Susu madu telor jahe atau kopi susu jahe merupakan minuman berenergi penghangat tubuh bagi yang perlu bergadang.Dalam dunia kuliner tradisional kita, kita pun punya banyak hidangan lezat yang dapat berperan sebagai halnya pangan fungsional. Ayam atau ikan pepes yang disantap dengan sambal pedas dengan lalap dari berbagai sayuran yang baru dipetik, atau ikan panggang dengan sambil matah dan segelas es buah segar yang nikmat disantap mungkin mempunyai kandungan komponen aktif yang tak kalah khasiatnya bagi tubuh. Asinan bogor, rujak buah segar, bubur tinutuan, plecing kangkung dan banyak lagi hidangan lezat lainnya yang kaya akan komponen aktif.Bisa juga hidangan ritual seperti sajian bubur lengkap pada adat Jawa merupakan pola pangan dengan konsep pangan fungsional di dalamnya, masih perlu diteliti lebih lanjut.

Tempe dan tiwul merupakan makanan fungsional kaya serat yang sering kita anggap enteng. Kacang kedele yang kaya akan isoflavonoid merupakan bahan baku pangan yang dilaporkan mempunyai banyak keunggulan bagi kesehatan tubuh seperti kemampuan anti-kanker prostat pada pria atau anti kanker payudara pada wanita. Kedele yang dapat diolah menjadi tahu dan susu kedele dinilai kaya akan zat fitokimiawi yang juga dikenal mampu mencegah pengaruh negatif menopause terhadap kesehatan pada wanita terutama pada kasus terjadinya osteoporosis.

Keunggulan kedele makin nampak jelas pada tempe yang merupakan produk hasil fermentasi kedele ini. Selain protein yang lebih mudah dicerna, proses fermentasi juga akan menghasilkan zat-zat derivative (senyawa turunan) yang lebih mudah diserap oleh tubuh, baik senyawa-senyawa isoflavonoid yang sudah disebutkan, juga terbentuknya vitamin B12 misalnya.

Untuk tiwul, sayang belum ada laporan tentang penelitian khasiat komponen fitokimiawi yang dikandungnya. Mungkin saja tak kalah khasiatnya. Satu lagi tawaran konsep pangan fungsional dapat kita peroleh pada sistem pola pangan yang dipopulerkan belum lama ini yaitu yang disebut dengan “food combining”. Food combining adalah pola pangan yang memanfaatkan komponen fitokimiawi nirgizi sebagai pola menu makanan. Pada dasarnya pola pangan ini menekankan pada konsumsi sayuran dan buah segar sebagai bagian utama menu sehari-hari dan pentingnya menyantap kombinasi makanan mengikuti siklus alami metabolisme serta mementingkan keseimbangan asam-basa tubuh. Tak ada takaran akan jumlah makanan yang dikonsumsi. Menurut tulisan Wied H. Apriadji dalam majalah Sedap Sekejap, pola pangan ini tak hanya mampu menjadi kunci sukses untuk langsing dan tubuh makin bugar, tetapi juga mampu mengatasi gangguan akibat profil lemak yang buruk seperti hipertensi, arteriosklerosis, stroke dan penyakit jantung koroner lainnya. Dengan asupan porsi 1 menu buah-buahan, 1 menu karbohidrat (beras, jagung atau biji-bijian lain atau umbi-umbian) dan sayuran, serta 1 menu protein (daging-dagingan atau telur) dan sayuran memang pola makan ini kaya akan komponen aktif, rendah gizi dan kaya serat sehingga secara serempak memberi dampak positif bagi tubuh. Hanya saja kembali pada masalah palatabilitas, berarti kita akan kehilangan kombinasi nasi pulen dengan rendang padang dan kuah gulainya yang lezat. Buat penggemar mie bakso pun berarti berita buruk, karena kombinasi mie dan bakso bukanlah kombinasi yang direkomendasi.

Bijaksana agar tak terjebak
Santapan lezat dengan jaminan kesehatan prima di hari tua pastilah merupakan tawaran yang menggiurkan bagi banyak orang. Namun di satu sisi, konsep ini membuka peluang bagi para pem-bisnis nakal untuk memanfaatkannya tanpa tanggung jawab moral yang benar dalam menggaet konsumennya. Apalagi mengingat belum banyak negara yang telah memiliki regulasi yang jelas dalam pengaturan klaim dari produk pangan fungsional ini. Untuk itu kita harus berhati-hati dalam menyikapinya, jangan sampai terjebak pada janji-janji bombastis yang cenderung tanpa dasar ilmiah atau pikiran rasional.

Kita sering juga terjebak pada sikap ekstrim yang terobsesi pada khasiat tertentu sehingga cenderung mengkonsumsi suatu jenis pangan saja secara berlebihan. Seperti kita ketahui makanan yang kaya akan zat gizi lemak, protein dan gula pun bila dikonsumsi berlebihan membuat masalah bagi tubuh. Keseimbangan yang tepat dan konsumsi yang beragam nampaknya dapat lebih membantu tubuh kita memanfaatkannya. Asupan pangan fungsional dengan jumlah intensif dengan tujuan pengobatan bukanlah cara yang bijaksana dalam menjaga kesehatan tubuh.

Apalagi dalam bentuk ekstrak komponen bioaktif dan dalam konsentrasi tinggi (misal dalam bentuk tablet atau kapsul suplemen) tanpa pengendalian dalam jumlah yang benar sebaliknya dapat berpengaruh negatif pada tubuh. Sekali lagi pangan fungsional bukanlah untuk tujuan kuratif (pengobatan), tetapi lebih pada preventif (pencegahan) dan tak mungkin dikonsumsi dalam dosis yang besar.

Perlu diketahui bahwa tiap komponen aktif selalu mempunyai 2 mata pisau yang selalu harus kita perhatikan, yaitu sisi khasiat dan sisi ´efek samping´. Keberadaannya bersama komponen lain dapat bersifat sinergi (saling menguatkan) atau sebaliknya saling meniadakan baik sifat positif maupun sifat negatifnya. Pengaruh pengolahan dan pencernaan dapat juga mengubah aktifitas komponen bioaktif. Aktifitas komponen bioaktif ini pun dapat berbeda pada kondisi tubuh konsumen yang berbeda. Dalam mengharapkan khasiat komponen aktif dalam bentuk produk pangan, nampaknya perlu juga dipertimbangkan apakah ketersediaan komponen bioaktif dalam porsi pangan yang umum dikonsumsi akan memberi asupan pada dosis yang cukup untuk memberikan khasiat yang diinginkan?

Pengenalan kondisi diri yang tepat dan menyesuaikan asupan dari pangan fungsional sesuai dengan kebutuhan tersebut dapat membantu kita memperoleh manfaat optimal. Kemampuan kita untuk bersikap bijaksana dalam menanggapi tawaran akan fungsi ketiga dari pangan ini dapat membuat kita tetap dapat menikmati produk pangan yang lezat tanpa rasa bersalah. Pemanfaatan konsep pangan fungsional dengan pemahaman yang benar tak perlu resep khusus. Bila kita dapat menerapkan pola pangan keseimbangan dengan diversifikasi pangan sesuai dengan status kesehatan, metabolisme tubuh yang sesuai dengan usia dan aktifitas serta menikmati kelezatannya dengan rasa syukur, pastilah kebugaran menjadi milik keluarga kita sekarang dan di masa usia lanjut. Seni kuliner kita menyediakan banyak bahan baku dengan komponen aktif yang berlimpah dan sangat beragam. Berbagai jenis sayur, buah, serealia dan biji-bijian serta rempah-rempah yang dikenal oleh bangsa ini merupakan sumber bahan baku pangan yang sangat menantang untuk diolah menjadi hidangan lezat dan berkhasiat.

Pengenalan lebih banyak tentang pangan fungsional pun dapat dilakukan secara mandiri. Pengenalan melalui label produk, tulisan ilmiah popular di media massa, tayangan televisi atau siaran radio atau penelusuran melalui internet merupakan alternatif pilihan yang mudah dijangkau. Bagi yang benar-benar berminat, bahkan tersedia situs khusus seperti halnya http://www.Nutrasolutions.com atau jurnal ilmiah Journal of Medicinal Food.

Terlepas dari debat antara pro- dan kontra, nampaknya suatu kesempatan benar benar tersedia bagi kita untuk meraih harapan mendapatkan kehidupan sehat yang lebih panjang. Hippocrates mungkin benar ketika beliau berujar, “Biarlah makanan menjadi bentuk pengobatan dari Yang Maha Kuasa” dan kita dapat percaya slogan yang mengatakan “sebuah apel sehari menghindarkan kita dari dokter”.

Tips untuk kita:
Konsumsi pangan secara berimbang sesuai dengan sumber daya setempat yang tersedia dan kemampuan kita.

Pustaka
Apriadji, W.H. 2002. Makanan juga bisa berfungsi sebagai obat. Sedap Sekejap Edisi 7/II: 72

Apriadji, W.H.2002. Manfaat sehat food combining. Sedap Sekejap Edisi7/III:70 Goldberg, I. 1994. Functional Foods. Chapman & Hall. London, England
.
Irawan, D. and C.H. Wijaya. 2002. The Potencies of Natural Food Additives as Bioactive Ingredients. Prosiding Kolokium Nasional Teknologi Pangan. Semarang, 24 Juni 2002.

Losso, J.N. 2002. Preventing degenerative diseases by anti-angiogenic functional foods. Food Technology, 56(6): 78

Milo, L.O. 2002. Nutraceuticals & functional foods: circulating heart – smart news.

Food Technology, 56(6):109 Schmidl. M.K. and T.P.Labuza 2000. Essentials of functional Foods. Aspen publishers, Inc. Maryland, USA.

Sloan, A.E. 2002. The top 10 functional food trends the next generation. Food Technology, 56(4): 32

Wijaya, C.H. and M. Astawan. 2001. Strategi Jepang dalam Pengembangan Pangan Tradisional sebagai Basis Pangan Fungsional. Di dalam L. Nuraida dan R. Dewanti-Hariyadi. (eds) Pangan Tradisional Basis bagi Industri Pangan Fungsional & Suplemen. Prosiding Seminar Nasional, Jakarta, 14 Agustus 2001

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: