Perang Mutu

“Produk perusahaan Saya, tak pernah berhasil memasuki pasar Jepang…!”, ungkap seorang eksportir dalam sebuah seminar di Jakarta.

Awal dari pecahnya “perang” yang mengagungkan mutu produk dimata konsumen, dengan hadirnya dua proses globalisasi ekonomi. Pertama, adalah globalisasi produksi yang diikuti dengan tidak adanya batas-batas produksi antarnegara. Suatu produk tak lagi diproduksi hanya disatu negara, tapi dihasilkan ditempat dengan ongkos yang bersaing dan penerapan standar mutu yang konsisten. Modal saat ini, mengucur ke negeri yang memberi ongkos produksi murah, mutu terjamin, dan karenanya memberi harapan terhadap margin keuntungan yang optimum. Kedua, adalah globalisasi perdagangan yang ditandai dengan diturunkannya berbagai tarif bea masuk dan disingkirkannya proteksi yang menjadi penghambat lintas batas perdagangan. Maka mutu menjadi kata kunci dalam ranah globalisasi itu.

Inilah sebabnya mengapa konsumen menuntut kualitas produk sesuai standar yang diterima secara internasional, melalui Organisasi Standar Internasional dengan ISO 9000 (Sistem Manajemen Mutu). Selama persyaratan ISO 9000 terpenuhi akan terjamin pula kualitasnya. Konsumen juga menuntut agar produsen dan pedagang tak merusak lingkungan, dengan mempersyaratkan penerapan ISO 14000. Lebih dari satu dasawarsa lalu, ada satu hal yang menggejala dimana konsumen meminta jaminan dalam bentuk “ecolabel”, yang dipasang pada produk dan memuat ketentuan lingkungan itu. Sebagai penentu arah konsumsi, tuntutan ini tak bisa diabaikan oleh produsen dan pedagang.

Dua proses globalisasi ekonomi tersebut turut menjadi pemicu pecahnya “perang mutu”. Berbagai kesepakatan internasional ditandatangani, konvensi diselenggarakan, hadirnya kelompok ekonomi antar kawasan, hambatan dikurangi, saling menurunkan tarif, saling berjibaku dalam layanan mutu produk dan canggihnya kualitas hidup. Layaknya sebuah medan perang, berbagai perusahaan (multinational corporation) saat ini, saling menggerincingkan pedang (saber ratting), merebut hati konsumen dilintas batas antar negara. Tepat jumlah, tepat harga dan tepat mutu adalah obat penawarnya. Bagaimana kondisi ini diciptakan?

AMERIKA vs JEPANG
Usai perang dunia kedua (PD II), kesenjangan tingkat teknologi antara Jepang dan Amerika ditutup dengan impor teknologi besar-besaran disertai pelatihan intensif kepada para teknisinya. Dengan kerja keras, bangsa Jepang telah berhasil mentransformasikan citra barang murah pada PD II, ke citra barang murah Jepang, tetapi bermutu tinggi. Sehingga berhasil menembus pasaran dunia. Jepang memang dipaksa bertekuk lutut pada perang dunia kedua dulu, karena dijatuhi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Tetapi pada saat “perang” mutu dalam era ini, Amerika berbalik memohon kepada Jepang agar membuka pasar dalam negerinya dan menaikkan nilai Yen, karena Amerika dibanjiri barang Jepang yang bermutu tinggi.

Sukses industri Jepang, karena bangsa Jepang sangat memperhatikan keteraturan, kebersihan, dan perbaikan yang berkesinambungan (Kaizen). Masuklah ke perusahaan Jepang, lantai pabrik sangat bersih, mesin-mesin dijaga tetap bersih dan segala sesuatu diletakkan pada tempatnya. Menurut Hayes dan Wheelwrigth (1984), “seorang manajer Amerika bercerita dengan penuh keheranan karena disuruh membuang plastik yang menempel di sepatunya, sebelum diijinkan berjalan dilantai pabrik yang telah berusia 30 tahun”.

Konsultan Navigator Research Institute (2006) memiliki pengalaman yang sama, ketika melakukan preliminary review pada sebuah perusahaan Jepang di kawasan industri Cikarang, “seorang security dengan percaya diri mengharuskan melepas sepatu dan menggantinya dengan bakiak ala Jepang sebelum memasuki ruang rapat perusahaan tersebut”.

Kaizen pada dasarnya berarti perbaikan (improvement) terus-menerus. Tiada kata akhir dalam perbaikan, sangat dihayati oleh orang Jepang sebagai “mental Jepang”. Strategi Kaizen mengatakan bahwa tidak satu haripun boleh terlewatkan tanpa perbaikan yang dilakukan dalam perusaahaan. Pola ini, sangat mempengaruhi peningkatan kualitas “proses konversi” di perusahaan Jepang. Proses konversi ini bermakna jika kita ingin meningkatkan kualitas produk, maka tingkatkan kualitas inputnya terlebih dahulu. Jangan bermimpi untuk mendapat output yang bagus dari input yang jelek. Karena itu “proses konversi” yang mengubah input menjadi output, juga harus ditingkatkan. Sebab produk merupakan hasil akhir dari suatu proses roduksi.

Banyak orang merasa bahwa metode Jepang mungkin hanya cocok untuk Jepang sedangkan di Amerika tidak akan bisa berjalan. Pandangan ini ternyata salah dalam banyak hal. Contoh klasik ialah pabrik Motorolla (Quasar Electronics) yang diambilalih Matsushita tahun 1974. Sebelum pengambilalihan, Motorolla mengalami 150 kerusakan per 100 set. Tetapi dalam kurun waktu yang relatif singkat, tingkat kerusakan tersebut berhasil dikurangi menjadi 3 sampai 4 per 100 set dipabrik yang sama, dengan pekerjaan yang sama dan orang-orang pengendali mutu yang sama. Satu-satunya yang berbeda adalah, adanya beberapa Manajer Jepang yang memasang pendekatan Jepang terhadap manajemen mutu. (J.M Juran: “Japanese and Western Quality – A Contrast”, Quality Progress; p.14).

Manajemen mutu total dan Kaizen sebagai suatu konsep, memayungi kebanyakan praktik unik manajemen Jepang, seperti: customer orientation (fokus pelanggan), robotics, QC-Circles (siklus kendali mutu), automation (otomatisasi), discipline in the workplace (disiplin), quality improvement (perbaikan mutu), zero defects (kerusakan nol), dan sebagainya.

Semangat membangun manajemen mutu total telah mengakar pada orang Jepang sejak dulu. Hal ini erat kaitannya dengan konsistensi dan kesadaran mutu yang tinggi (high quality consciousness) orang Jepang. Begitu tingginya kesadaran akan kualitas itu sampai-sampai membuat frustasi seorang eksportir, karena produknya tak pernah memenuhi persyaratan standar Jepang. Itu artinya pasar Jepang tak akan pernah ia tembus.

Samurai obat penawar untuk menembus pasar itu adalah, mulailah menerapkan manajemen mutu total, untuk selalu siap saling menggerincingkan pedang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: