RFID Pada Idustri Pengolahan Udang di Thailand

Sebagai salah satu produsen dan eksportir udang terkemuka, Thailand dikabarkan akan Meningkatkan kualitas produk udangnya dengan menerapkan sistem food traceability berbasiskan teknologi RFID ( radio frequency identification ). Dua eksportir udang terbesar Thailand, Charoen Pokphand Foods (CPF) dan Chanthaburi Frozen Food menginvestasikan sekitar 10 juta baht atau sekitar 2,4 miliar rupiah untuk ujicoba sistem ini.

Penerapan teknologi informasi berbasis RFID ini tak terlepas dari tuntutan industri makanan secara global. Saat ini, para produsen bahan makanan berorientasi ekspor dituntut untuk menyesuaikan proses produksinya sesuai dengan standar internasional seperti COC, GAP, GMP dan HAACP.

Penggunaan teknologi, seperti sistem food traceability , diharapkan akan meningkatkan dayasaing dan mengamankan pangsa pasarnya di pasar global. Sistem food traceability sendiri bertujuan untuk memperbaiki kualitas dan keamanan makanan, khususnya untuk mengantisipasi kasus-kasus kontaminasi makanan.

Kementerian Pertanian dan Koperasi Thailand , udang merupakan salah satu komponen ekspor strategis. Tahun lalu, industri udang Thailand memasok devisa sekitar 67,3 miliar baht, atau sekitar 16,3 triliun rupiah. Industri ini melibatkan banyak pihak dalam rantai produksinya, mulai dari petambak, produsen, peritel sampai para pemasok. Sekitar 80 persen bahan mentah untuk produksi dipasok secara lokal. Adanya sistem food traceability , tentunya, akan mempermudah pemantauan kualitas produk makanan sepanjang rantai produksinya.

Saat ini, sejumlah negara tujuan ekspor produk udang Thailand seperti AS, Jepang dan negara- negara Eropa diketahui telah mensyaratkan upaya-upaya pengamanan bahan makanan, salah satunya dengan sistem food traceability ini.

Seperti dilaporarkan harian Bangkok Post, saat ini sistem RFID untuk aplikasi food traceability tersebut tengah dikembangkan oleh National Innovation Agency (NIA) dan National Electronics and Computer Technology Centre (Nectec), bekerjasama dengan Kementerian Perikanan, Pertanian dan Koperasi Thailand, serta produsen smart card /RFID cluster lokal. Sejumlah vendor TI juga terlibat dalam inisiatif ini, seperti FXA Group, IE Technology dan IBM Thailand. Praderm Chotisuparach, executive vice president, IT Department, Charoen Pokphand Foods (CPF), mengakui bahwa proses kerja manual memang lebih murah, namun dibutuhkan waktu lama untuk melacak asal-usul produk makanan sampai ke sumbernya. Sementara kehadiran RFID, sekalipun dibutuhkan up-front cost yang besar, memungkinkan proses tersebut lebih cepat dan akurat.

Dalam jangka panjang, teknologi seperti ini membantu perusahaan memperpendek proses pelacakan makanan. Proses ini juga meningkatkan keyakinan konsumen terhadap keamanan produk makanan yang dikonsumsinya,” ujarnya. Jika terjadi masalah, sistem ini memungkinkan perusahaan melacak sampai ke lokasi tambak darimana udang tersebut berasal.

CPF sendiri akan mengujicoba penggunaan RFID selama tiga bulan di fasilitas pemrosesannya di propinsi Klaeng Rayong, yang mengolah sekitar 80 ton udang per hari.

mengakui proses perancangan dan pengujian sistem traceability ini memakan waktu lama, karena menggunakan pola trial and error . Lagipula, tidak ada satu pihak pun yang pernah mengaplikasikan teknologi ini di industri udang.

Namun, Praderm percaya bahwa teknologi ini dapat berfungsi baik. Sifat RFID yang tahan air ( water resistant ) membuatnya cocok untuk diaplikasikan di industri udang, yang sebagian besar lini produksinya berada di lingkungan air.

itu, eksportir udang utama Thailand lainnya, Chanthaburi Frozen Food, akan memulai proyek uji cobanya Desember ini. Peranti lunak traceability dan sistem RFID ini akan diujicobakan di salah satu dari tiga pabrik pengolahan di Chantaburi. Di fasilitas ini, sekitar 100 ton udang diolah setiap harinya.

coba ini, menurut managing director CFF , Paibool Dussadeevutikul akan berlangsung selama enam bulan. Sistem ini diterapkan di seluruh proses produksi CFF, mulai dari penerimaan, pembersihan, pemotongan kepala udang, pengupasan kulit, pemasakan, pembekuan, pengemasan dan penyimpanannya.

uji coba pertama ini selesai, CFF akan memperluas sistem ini mencakup dua pabrik lainnya, ujar Paibool. Hal ini terkait rencana CFF untuk menembus pasar Eropa tahun depan, dan sistem ini diperlukan untuk menjamin keamanan produk-produk udang yang diekspornya.

uji-coba kelayakan maupun keakuratan sistem RFID-nya, baik CPF maupun CFF bekerja sama dengan FXA Group, IE Technology dan IBM Thailand. IE Technology bertanggung jawab pada implementasi sistem RFID, sementara IBM menangani middleware yang memungkinkan sistem RFID berkomunikasi dengan peranti lunak database di back office -nya.

depan, kementerian pertanian Thailand mengatakan bahwa aplikasi traceability berbasis RFID ini dapat diaplikasikan ke produk-produk makanan lain. Salah satu yang paling potensial adalah industri ayam potong. Thailand setidaknya mengekspor 400 juta ekor ayam potong setiap tahunnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: