Kethoprak Suminten Ora Edan

Persaingan warok terjadi di Kadipaten Trenggalek. Salah satu warok di
sana, yakni Warok Secodarmo, berbuat tak terpuji dengan bersiasat
menyuruh anak buahnya membuat kerusuhan di wilayah Gunung Klothok. Agar
kelihatan berjasa, kerusuhan itu dipadamkannya sendiri.

Ketika Anak Menjadi Alat Status Sosial

Adipati Trenggalek memberi ganjaran pada warok itu dengan mengangkat menantu Suminten, anak perempuan satu-satunya Warok Secodarmo, untuk dinikahkan dengan Raden Mas Subroto, putra Mahkota Kadipaten Trenggalek.

Kabar pernikahan Suminten dan Subroto tersebar dan persiapan sudah digelar. Namun, mereka berdua tidak setuju, di samping kenyataan sudah memiliki kekasih masing-masing, dan mereka sendiri belum pernah bertemu.

Subroto sudah kepincut dengan Cempluk Warsiyah, gadis dusun yang lugu, sedangkan hati Suminten sudah tertambat pada Paman Doblang, pemuda dusun yang sederhana dan periang. Alhasil persiapan pernikahan batal, dan geger.

Suminten bergembira ria, namun Mbok Secodarmo stres karena telanjur mengumbar cerita dan utang sana-sini untuk persiapan pernikahan. Maklum saja karena menjadi besan adipati, waktu itu adalah laksana impian. Prestise sosial yang jelas identik dengan bergelimang.

Kisah di atas ditampilkan dalam ketoprak dengan lakon Suminten Ora Stres di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kamis (28/12). Pentas tersebut diadakan Komunitas Conthong bersama Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Yogyakarta, serta TBY.

Peristiwa demi peristiwa yang dibangun menjadikan jalinan humor yang muncul berjalan lumayan sukses selama dua jam pementasan. Nama-nama seniman kethoprak dan pelawak seperti Yu Beruk, Anang Batas, Paidi Ompong, Rini, Hargi Sundari, hingga Benny Kuncung memang menjadi salah satu garansi tawa malam itu.

Tentang sang anak yang dimanfaatkan oleh orangtua sebagai alat menuju tercapainya status sosial yang lebih tinggi tampaknya menjadi intisari kisah di atas. Nano Asmorodono, sang sutradara, sendiri berujar memang itulah sejumput contoh realitas masyarakat sekarang.

Orangtua semakin lupa bahwa anak berhak menentukan pilihan sendiri. Anak juga dimanfaatkan untuk memperbaiki status sosial dan ekonomi keluarga dengan mendesakkan jodoh dari keluarga kaya.

Aroma politik kekuasaan juga terembus dalam rencana pernikahan Suminten dan Subroto itu. Adipati Trenggalek jelas berpikiran bahwa dengan membangun hubungan keluarga dengan Warok Secodarmo, kursi kekuasaannya bakal lebih luas dan aman dari gangguan para kaum separatis (warok lain).

Sang Warok pun tentu saja berangan-angan tidak hanya menjadi warok. Kursi yang lebih empuk tentu saja akan dilirik. Karena itulah di akhir cerita, Adipati menangkap sang Warok Secodarmo karena mengendus akal busuknya. Begitulah hidup.

“Sejahat-jahatnya mereka yang berkuasa di tingkat bawah, namun ketika berhadapan dengan orang jahat di tingkat atas, ya tetap saja kalah. Maka dari itu masyarakat kita banyak yang ingin duduk di atas,” kata Nano.

Suminten, dalam kethoprak itu, terangkat menjadi figur perempuan cerdas dan mandiri. Sebenarnya bisa saja dia tidak menolak dijodohkan dengan Subroto. Namun, bayang-bayang tidak bahagia, dan ia merasa rentan untuk dipoligami-seperti kebiasaan orang yang berkuasa-membuat Suminten memilih menolak dijodohkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: