‘Inferiority Complex’ Penghalang Inovasi

Ketika kita membicarakan mengenai inovasi, topik yang sering dibahas adalah mengenai kreativitas, strategi organisasi, manajemen perubahan, atau peranan pemerintah. Namun ada satu topik penting yang selama ini luput dari pembahasan, walau sebenarnya sangat penting, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Topik tersebut adalah: rasa rendah diri bangsa.

Bila Anda berjalan-jalan di pusat-pusat perbelanjaan, cobalah lihat foto-foto model yang dipajang, terutama untuk produk lifesytle seperti fashion. Berani bertaruh, sekitar 90% model yang ditampilkan adalah para bule. Anda mungkin akan menemukan beberapa wajah Asia dan Latin, tetapi jarang sekali yang berwajah khas Indonesia. Bukan saja itu, bahkan manequin yang dipakai “berwajah” orang-orang Barat.

Anda mungkin akan bertanya-tanya, apakah ada hubungan manequin bule dengan tingkat inovasi bangsa ini? Secara langsung, mungkin tidak. Secara tidak langsung, hubungannya banyak sekali.

Pemakaian model-model asing tersebut mencerminkan bagaimana di tanah kita sendiri, kita lebih percaya produk-produk asing dan semua gaya hidup yang diwakilinya. Bila di tanah sendiri saja kita memiliki persepsi demikian, bagaimana dengan di luar negeri? Para pengusaha yang menyadari adanya persepsi negatif tersebut sering patah arang terlebih dahulu untuk menghasilkan produk-produk inovatif dan berkualitas tinggi, meski mereka mungkin bisa melakukannya. Dalam dunia marketing, bukankah persepsi adalah realita? Bila persepsi publik di dalam dan luar negeri terhadap produk Indonesia adalah negatif dan berkualitas rendah, apa gunanya menghasilkan produk inovatif yang bernilai tambah tinggi?

Dihinggap mentalitas demikian, para pengusaha lebih memilih untuk menerima outsourcing dari perusahaan luar negeri karena lebih aman. Sebagai contoh untuk industri fashion, banyak pengusaha kita yang memproduksi untuk perusahaan-perusahaan besar seperti Gap, Next, atau Guess. Ini membuktikan pengusaha kita sebenarnya mampu memproduksi barang-barang berkualitas tinggi. Namun tanpa adanya kepercayaan diri untuk membangun kemampuan di bidang design dan branding, produk tersebut hanya dijual murah. Setelah barang tersebut dikirim ke luar dan diberi brand yang terkenal, barang tersebut diimpor kembali ke Indonesia untuk dijual dengan harga tinggi. Sangat disayangkan, karena proses ini membuat banyak nilai ekonomis yang mestinya bisa diraup bangsa kita terbuang percuma.

Rasa rendah diri tersebut juga tercermin pada kebijakan ekonomi makro yang dikeluarkan pemerintah. Kebijakan ekonomi pemerintah masih berpusat pada industri padat karya dengan tujuan mengejar ketinggalan dari negara-negara lain. Ketika beberapa perusahaan sepatu di Cina beramai-ramai melakukan investasi di Indonesia, kita sudah kegirangan setengah mati. Memang kita membutuhkan investasi semacam itu, terutama untuk mengatasi masalah pengangguran. Tetapi bila investasi tersebut dianggap sebagai prestasi gemilang dalam menggapai investasi asing, kita patut gelisah. Bukankah negara-negara lain yang dulunya ketinggalan dari Indonesia seperti Cina, India, dan Malaysia sekarang sudah menarik investasi besar-besaran di bidang teknologi informasi dan bioteknologi? Kenapa kita kelihatannya cuma berjalan di tempat? Ekspor kita memang menunjukkan grafik peningkatan, tetapi yang diekspor kebanyakan masih produk komoditi.

Sementara itu, riset dan pengembangan teknologi diabaikan atau dibiarkan berjalan begitu saja tanpa koordinasi. Lembaga pendidikan tinggi juga hanya berfokus pada pencetakan lulusan yang siap pakai di dunia kerja, bukan insan-insan yang mampu berpikir kreatif, inovatif, dan berjiwa wiraswasta. Media juga ikut membantu dengan seringnya pemberitaan negatif tentang Indonesia dan perusahaan-perusahaannya.

Sebenarnya rasa rendah diri tersebut tidak saja melanda bangsa Indonesia. Kebanyakan negara-negara Asia, termasuk yang sudah maju seperti Hong Kong dan Korea, masih dihinggapi inferiority complex tersebut. Para manequin di kota-kota besar lainnya di Asia juga masih banyak yang berwajah dan bertubuh bule. Giordano, perusahaan fashion dari Hong Kong, terpaksa memakai model Barat untuk produknya. Namun fenomena tersebut lebih terasa di Indonesia.

Lalu bagaimana caranya keluar dari persepsi tersebut? Tidak mudah, tentu saja. Dibutuhkan waktu yang lama dan kerja sama semua pihak untuk perlahan-lahan mengikis rasa rendah diri tersebut. Tentunya semua itu harus dimulai dari pucuk pemerintahan yang mampu berpikiran jangka panjang dan lebih mendahulukan kepentingan bangsa. Namun perusahaan tentu tidak bisa menunggu selama itu, apalagi yang ditunggu bisa saja si Godot. Karena itu, dengan segala keterbatasannya, perusahaan yang ingin berinovasi harus berusaha keluar dari persepsi tersebut dengan cara-cara kreatif atau meniru contoh yang sudah ada.Beberapa strategi umum yang sering dipakai untuk mengurangi inferiority complex tersebut adalah pencarian sertifikasi internasional seperti ISO-9000, atau joint venture dengan perusahaan luar negeri. Sementara itu, perusahaan keluarga sering menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri yang nantinya diharapkan akan menjadi putra/i mahkota. Pendidikan dari luar negeri tersebut, terutama dari sekolah-sekolah terkenal, diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri perusahaan bersangkutan. Siapa tahu periode sekolah tersebut mampu menghasilkan kontak-kontak penting dengan rekan-rekan mancanegara. Perusahaan yang lebih besar bisa menyewa ekspatriat dan konsultan dari luar negeri, walau mereka tentunya harus berhati-hati agar tidak terlalu tergantung pada orang-orang asing tersebut. Keberanian melakukan branding dan marketing communications yang konsisten tentu termasuk salah satu cara yang bisa dipakai.

Peranan media tentu sangat dibutuhkan juga. Bukankah sudah ada beberapa contoh perusahaan Indonesia yang cukup berhasil dan terkenal inovatif? Sebut saja Astra Group, Sampoerna, Grup Wings, Sosro, Martha Tilaar, Garuda Food, atau J.CO. Beritakanlah keberhasilan-keberhasilan mereka, dan juga prestasi putra/i bangsa kita di dunia internasional. Jangan hanya ramai memberitakan cerita kriminal, kawin cerai para selebritis, atau kegiatan para anggota dewan saja. Berita-berita keberhasilan tersebut sangat dibutuhkan untuk membentuk persepsi positif terhadap bangsa kita. Bila kita semua melihat bangsa kita secara negatif, hal itu akan menjadi self-fulfilling prophecy, ramalan yang menjadi kenyataan karena sudah terlanjur dipercayai.

Kejujuran mengakui rasa rendah diri kita juga dibutuhkan sebelum kita bisa memperbaikinya. Jika Anda merasa diri Anda atau perusahaan Anda tidak inovatif, periksalah dulu apakah penyebabnya adalah lack of confidence sebelum menyimpulkan penyebabnya adalah lack of competence. Hanya dengan mengetahui penyebab sebenarnya, Anda bisa mengobati akar permasalahannya. 

2 Tanggapan

  1. saya juga bingung, model yg dipakai kan bule, tetapi produknya masih laku juga. Hal ini mungkin krn kita masih merasa bahwa bule itu keren.

  2. Ada 2 kemungkinan menurut saya :
    1. Image masyarakat akan produk asing dibentuk oleh para marketer
    2. Marketer mengikuti trend masyarakat (image kpd produk)

    Tetapi balik lagi, image masyarakat (konsumen) dibentuk oleh media, gimana pendapat Anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: