Aku Khan Sudah Minta Maaf..

Cuplikan berikut dari DR. Chapman. Kali ini yang dibicarakan adalah hal yang sering membuat kita frustasi,”Kenapa sih dia masih marah, tapi saya khan sudah minta maaf?” Ternyata mohon maaf pun ada bahasa yang berlaku berbeda bagi masing – masing pribadi. Simak ulasan berikut dan rasakan perbedaannya setelah anda praktekkan. Selamat menikmati…

Learning to Apologize Effectively

Have you ever noticed that what one person considers to be an apology, is not what another person considers to be an apology? What is an apology?
( Apakah anda pernah memperhatikan bahwa cara orang untuk menerima permohonan maaf berbeda satu sama lain ? Apa sih sebenarnya Permohonan Maaf itu ? )

It’s different things to different people. After three years of research, Dr. Jennifer Thomas and I have concluded that there are five basic elements to an apology. We call them the five languages of apology. Each person has a primary apology language, and one of the five speaks more deeply to them emotionally than the other four. If you don’t speak their language, they may consider your apology insincere.
( Masing – masing orang memiliki penerimaan yang berbeda satu sama lain. Setelah riset selama tiga tahun, Dr. Jenifer Thomas dan saya menyimpulkan bahwa terdapat 5 Dasar Permintaan Maaf. Kami menyebutnya sebagai Lima Bahasa Permohonan Maaf. Setiap orang memiliki bahas permohonan maaf yang utama, dan satu dari lima tersebut berdampak lebih dalam secara emosi dari empat yang lain. Jadi jika anda tidak bicara dengan bahasa mereka, mereka akan menganggap permohonan maaf anda kurang tulus )

A Question of Sincerity
( Pertanyaan tentang ketululusan )
Ever had someone apologize to you and you questioned their sincerity? Ever ask yourself why? It’s probably because they did not speak your apology language. They said, “I’m sorry.” But what you wanted to hear was, “I was wrong.” They said, “Will you forgive me?” But what you wanted to hear was, “What can I do to make this right?”
( Pernahkah ada seseorang yang meminta maaf pada anda dan anda mempertanyakan ketulusannya ? Pernah merefleksikan diri tentang hal itu ? Kemungkinannya adalah mereka tidak berbicara bahasa permohonan maaf anda. Mereka bilang,”Saya minta maaf.” Tetapi apa yang ingin anda dengan adalah,” Saya salah.” Mereka bilang,”Apakah saya dimaafkan ?” Tetapi yang ingin anda dengar adalah,” Apa yang harus saya lakukan untuk memperbaikinya ?” )

Many of our apologies come across as insincere because we are not speaking the apology language of the offended person. If couples can learn each other’s primary apology language and speak it when they offend each other, forgiveness will be much easier.
( Banyak dari permintaan maaf kita dianggap kurang tulus karena kita tidak bicara bahasa permohonan maaf dari orang yang kita tuju. Jika pasangan bisa mengetahui bahasa permohonan maaf utama masing – masing dan menggunakkanya pada saat yang diperlukan, pasti akan lebih mudah untuk memaafkan. )

The Five Languages of Apology
( Lima Bahasa Permohonan Maaf )
Do you know the five languages of apology?
# 1 – Expressing Regret – “I’m sorry.” “I feel badly about what I did.”
# 2 – Accepting Responsibility – “I was wrong.” “It was my fault.”
# 3 – Making Restitution – “What can I do to make it right?”
# 4 – Genuinely Repenting – “I’ll try not to do that again.”
# 5 – Requesting Forgiveness – “Will you please forgive me?”
( Apakah anda tahu 5 bahasa Permohonan Maaf?
# 1 – Ekspresi Penyesalan – ” Saya mohon maaf.””Saya merasa apa yang saya lakukan tidak baik”
# 2 – Menerima Tanggung Jawab – ” Saya bersalah.””Itu salah saya.”
# 3 – Membuat Penggantian – ” Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya? ”
# 4 – Menyatakan Kekhilafan – “Saya tidak akan melakukannya lagi.”
# 5 – Memohon Maaf – “Maukah memaafkan saya?” )

Speaking the Right One
( Bicara dengan Bahasa yang Tepat )
When you apologize, you are trying to make things right. So you say, “I’m sorry. I was wrong. I know I hurt you and I feel badly about it. Will you forgive me?” But your spouse says, “How could you do that if you loved me? How can I forgive you when you never do anything to ‘make it right’?” You feel frustrated and don’t know what to do next. The problem is not your sincerity, the problem is that you are not speaking the right apology language.
(Ketika anda memohon maaf, anda berusaha untuk membuat semuanya menjadi baik lagi. Lalu anda mengatakan,” Saya mohon maaf. Saya salah. Saya telah menyakiti kamu dan saya merasa buruk sekali. Maukah kamu memaafkan saya?” Tetapi pasangan anda berkata,”Kenapa kamu bisa begitu jika kamu mencintai saya? Bagaimana saya bisa memaafkan kamu kalau kamu tidak melakukan apapun untuk memperbaikinya? ” Anda merasa frustasi dan tidak tahu lagi apa yang seharusnya dilakukan. Masalahnya bukan ketulusan anda, melainkan anda tidak bicara dengan bahasa yang tepat. )

Which Do You Want to Hear?
( Mana yang ingin anda dengar? )
Which one of the five languages of apology do you want to hear? That is your primary apology language.
( Manakah yang ingin anda dengar dari ke Lima Bahasa Permohonan Maaf itu? Itulah bahasa permohonan maaf anda yang utama )

Apologize effectively by learning your spouse’s apology language and speaking it when you know you have offended each other. Ask your spouse, “When I apologize, what do you want to hear from me?” You may be surprised at their answer, but it will give you their primary apology language. Learning to speak each other’s apology language will lead you to a growing marriage.
( Memohon maaf secara efektif dengan mempelajari bahasa permohonan maaf pasangan anda dan bicara dengan bahasa tersebut pada saat diperlukan. Tanyakan pada pasangan anda, “Apa yang ingin mereka dengan ketika saya mohon maaf?” Anda mungkin saja terkejut dengan jawabannya, tetapi itu akan memberikan anda Bahasa Permohonan Maaf yang utama. Belajar bicara Bahasa mereka akan membawa anda ke Pernikahan yang terus bertumbuh. )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: