Informasi Produk dan Budaya Konsumsi

Bila Anda sedang menjalani diet, maka pilihan makanan dengan kandungan kalori yang lebih rendah tentu merupakan pilihan yang masuk akal. Demikian juga bagi yang tetap ingin merokok, namun ingin menghindari resiko kesehatan, akan lebih memilih rokok dengan kandungan tar dan nikotin rendah. Dengan cara demikian, setidaknya Anda masih bisa menikmati apa yang Anda sukai dan sekaligus menghindari resiko. Strategi tersebut kelihatannya jitu dan sangat masuk di akal.

Tapi, tunggu dulu…

Brian Wansik dari Cornell University dan Pierre Chandon dari INSEAD tidak sependapat dengan kesimpulan tersebut. Dan mereka tentu saja tidak asal omong. Lewat penelitian yang mereka lakukan, mereka menemukan konsumen akan mengkonsumsi makanan yang dilabeli sebagai “low fat” dalam kuantitas yang lebih banyak. Hasil akhirnya? Jumlah kalori yang dikonsumsi bisa-bisa lebih besar dibanding bila mereka menyantap makanan biasa. Hal ini dibantu oleh label makanan yang sering membingungkan.

Meski label makanan sering memberi informasi kalori, informasi tersebut (entah sengaja atau tidak), sering dibuat menjadi lebih kompleks. Kalori dihitung dengan satuan serving size, sementara 1 bungkus makanan sering terdiri dari beberapa serving size. Selain itu, terkadang informasi kalori diberikan dalam satuan kJ (kilo Joule). Berapa orang yang tahu cara mengkonversi kJ ke kalori, dan dari kalori ke berat badan? Untuk menghitung kalori dengan benar, konsumen harus melakukan perhitungan aritmatika terlebih dahulu. Di Indonesia, hal ini malah lebih parah karena banyak produsen yang tidak memberikan informasi tersebut sama sekali.

Fenomena yang sama juga bisa diamati pada konsumsi rokok yang dilabeli sebagai rokok “low tar low nicotine“. Label tersebut sering membuat konsumen berani mengambil resiko tambahan dengan membakar lebih banyak rokok di sela jari-jari tangan mereka.

Sekarang kita lihat penelitian kedua.

Lisa E. Bolton dari Wharton dan dua rekannya dari University of Pennsylvania School of Medicine, Kevin G. Volpp dan Katrina Armstrong, mengadakan penelitian yang lain. Penelitian mereka berkaitan dengan bagaimana pola makan konsumen yang setelah didiagnosa menderita kondisi klinis seperti kolesterol atau kegemukan diberi obat dokter atau suplemen. Apakah pemberian obat atau suplemen tersebut mempengaruhi pola makan dan gaya hidup mereka?

Mereka menemukan, konsumen yang diberi suplemen ternyata lebih memilih pola hidup sehat dibanding yang mendapatkan obat dokter. Jawaban atas perbedaan tersebut? Konsumen yang mendapatkan obat dokter merasa lebih percaya bahwa obat yang mereka terima lebih ampuh menghilangkan apa pun “penyakit” yang mereka derita. Bila problem yang sama terulang kembali, mereka dengan mudah kembali ke dokter untuk meminta resep yang sama tanpa mengganggu kenikmatan lidah mereka. Sementara itu, konsumen yang menerima suplemen lebih berhati-hati karena mereka menyadari suplemen hanyalah suplemen. Akibatnya, mereka lebih termotivasi untuk merubah gaya hidup mereka, karena suplemen dilihat hanya sebagai salah satu alat bantu.

Kesimpulan dari kedua penelitian di atas? Kita, konsumen, bukanlah makhluk yang rasional. Kita sering percaya pada kesimpulan kita tanpa menyelidiki lebih jauh. Pada kondisi-kondisi yang berhubungan dengan kesehatan, kekurangan tersebut bisa jadi berakibat fatal. Dalam hal ini, produsen kelihatannya belum berpihak kepada kepentingan Anda. Hanya kehati-hatian Anda sendiri yang mampu menyelamatkan Anda dari irasionalitas tersebut. Sementara itu, bagi pihak-pihak otoritas dan lembaga perlindungan konsumen, hasil riset ini semoga bisa dijadikan acuan untuk meminta produsen agar bersedia memberikan informasi yang lebih bertanggung jawab kepada konsumen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: