The Creative Team

Sering teringat cerita Mas Toto tentang anak kreatif advertising jamannya, di mana art director dan copywriter-nya punya beragam latar belakang. Ada yang dari dokter, insinyur, aktivis mahasiswa, orang administrasi, sampai ahli kimia dan mantan narapidana politik.Jakarta, latar belakang art director-nya sudah cenderung generik: jebolan DKV atau seni rupa. Copywriter-nya juga kebanyakan berasal dari sastra atau komunikasi. Secara ingredients sudah tidak sekaya dulu. Mungkin ini juga sebabnya grafik pertumbuhan kreatifnya cenderung statis. Yang berkembang pesat hanya eksekusi (kemasannya), itu pun karena didukung teknologi yang canggih—teknologi film production, teknologi digital imaging, teknologi audio, dan masih banyak lagi.California, di markas Apple Inc. Di sini tergabung banyak desainer dengan latar belakang berbeda-beda, mulai dari desainer fashion sampai desainer mobil, dikepalai oleh Jonathan Ive, sang chief designer.

Latar belakang yang beda-beda ini memperkaya chemistry dan reference di dalam tim itu. Sentuhan art direction si insinyur tentunya akan beda dengan sentuhan art direction si mantan narapidana, bahasa tulisan si aktivis tentunya beda dengan dokter. Terbayang bagaimana dinamisnya suasana di dalam tim yang seperti ini.

Sementara gejala hari ini, dan di banyak tempat, nggak cuman di

Tim kreatif yang sangat majemuk ini ternyata masih ada di salah satu sudut

Itulah sebabnya dalam sekitar 10 tahun terakhir sejak era comeback Apple, selalu muncul penemuan-penemuan yang sangat inovatif dari mereka. Breakthrough inventions, mulai dari iMac G3, iMac G4, iTunes, iPod, iMac G5, iPod Shuffle, sampai iTunes Store dan iPhone.Sebegitu inspiratifnya penemuan-penemuan ini, sampai pemain lain cenderung susah menemukan yang lebih baru dan akhirnya memutuskan jadi follower.

iMac G3, misalnya, terinspirasi dari permen. Ini adalah generasi Apple Computers yang menjadi pengubah paham (changing belief) konsumen teknologi dari “for function” menjadi “for fun”. Bentuknya sangat menarik—bayangkan komputer yang biasanya kotak membosankan jadi warna-warni bening seperti permen—ukurannya kecil, dan CPU jadi satu dengan monitor sehingga tidak banyak kabel sliweran.

Revolusi di dunia komputer desktop ini yang kemudian membawa pengaruh ke bidang-bidang teknologi lain, misalnya tren desain ponsel yang sama-sama menggunakan paham “form-follow-fun”—Nokia 5110 menjadi pencetak sukses besar saat itu (late 90s), sampai disebut ponsel sejuta umat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: